PETI Biang Konflik, LSM Galaksi Sulut Desak Kapolda Tutup Tambang Ilegal di Bolsel, Pemda Dinilai Bungkam!

Senin, 4 Agustus 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar/Doc: Ketua LSM Gabungan Lembaga Anti Korupsi Sulut Reinal Mokodompis, dan Cam Tambang ilegal di Desa Dumagin B Kabupaten Bolsel yang dibakar warga akibat terjadi konflik.

Gambar/Doc: Ketua LSM Gabungan Lembaga Anti Korupsi Sulut Reinal Mokodompis, dan Cam Tambang ilegal di Desa Dumagin B Kabupaten Bolsel yang dibakar warga akibat terjadi konflik.

HUKRIM, TimeNUSANTARA — Situasi keamanan dan sosial di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) kian mengkhawatirkan akibat aktivitas tambang emas ilegal (PETI) yang makin tak terkendali. Ketua LSM Gabungan Lembaga Anti Korupsi Sulawesi Utara (Galaksi Sulut), Reinal Mokodompis, secara tegas mendesak Kapolda Sulut untuk segera menutup seluruh aktivitas tambang ilegal yang kini terbukti menimbulkan konflik horizontal dan kerusakan lingkungan parah di wilayah tersebut.

“Kalau ini dibiarkan, bukan tidak mungkin bentrokan besar akan pecah. Pemerintah daerah juga harus bertanggung jawab karena membiarkan semua ini terjadi tanpa tindakan nyata,” tegas Reinal.

Baca juga: Massa Bakar Camp Tambang Emas Ilegal, Warga Murka Pengusaha Ingkar Komitmen dan Tebang Pohon Larangan

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, tambang yang beroperasi tanpa legalitas itu sudah sejak tahun 2023 disuarakan oleh warga untuk dihentikan. Namun, hingga kini, baik Pemda Bolsel maupun aparat penegak hukum masih terkesan bungkam dan tidak berani bertindak tegas.

Puncak kemarahan warga terjadi Kamis (31/8/2025) di kawasan tambang ilegal Desa Dumagin B, Kecamatan Pinolosian Timur. Ratusan warga dari beberapa desa menyerbu lokasi tambang setelah menemukan pohon keramat yang dilindungi secara adat ditebang secara sembarangan oleh pihak pengusaha tambang. Tak hanya itu, warga juga merasa dikhianati setelah komitmen awal bahwa 10% hasil tambang akan disetor ke kas desa, ternyata tidak pernah direalisasikan.

“Uang dari tambang itu ke mana? Ke desa tidak masuk. Malah pohon larangan ditebang seenaknya. Warga sudah cukup sabar,” ujar salah satu warga dengan nada geram.

Amarah warga pun meledak. Sejumlah camp milik pengusaha dibakar. Beberapa alat berat berhasil diamankan warga untuk mencegah kerusakan lanjutan. Situasi di lokasi nyaris berubah menjadi bentrok besar, beruntung para penambang lebih dulu melarikan diri.

Kondisi ini seolah menjadi tamparan keras bagi Pemerintah Kabupaten Bolsel, yang hingga kini belum menunjukkan sikap tegas dalam menghentikan aktivitas ilegal tersebut. Kehadiran tambang ilegal tidak hanya memicu konflik sosial, tetapi juga telah merusak lingkungan secara sistemik, bahkan diduga menjadi penyebab utama banjir bandang yang sering melanda dua kecamatan akibat kerusakan daerah aliran sungai (DAS).

Mirisnya, area tambang ilegal itu masuk dalam konsesi resmi PT JRBM, namun dikuasai oleh oknum-oknum tertentu. Tiga nama disebut sebagai pemodal utama PETI ini: Ko Tol, WK, dan JS, dimana JS diketahui merupakan eks pejabat dari Kabupaten Minahasa Tenggara yang kini diduga kuat menjadi investor utama di balik aktivitas ilegal tersebut.

“PETI ini bukan cuma soal emas. Ini sudah merusak sistem sosial dan adat masyarakat. Kalau tak segera ditindak, Bolsel akan jadi daerah konflik,” kecam seorang tokoh pemuda Dumagin.

Namun ironis, hingga berita ini diterbitkan, tidak ada satu pun pernyataan resmi dari Pemda Bolsel maupun Polres setempat. Pemerintah seolah memilih diam di tengah kegelisahan dan keresahan masyarakat.

LSM Galaksi Sulut kembali menegaskan: Jika Pemerintah Daerah Bolsel tidak mampu menyelesaikan persoalan PETI ini, maka Kapolda Sulut harus segera turun tangan dan hentikan tambang ilegal secara permanen.

“Kalau tambang ini punya izin, tentu ada kontribusi pajak dan retribusi yang masuk untuk pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat. Tapi ini? Izin tak ada, kerusakan makin parah, dan warga justru yang jadi korban,” pungkas Reinal.

Situasi ini menjadi alarm keras bagi semua pihak. Jika negara tidak hadir untuk menyelesaikan masalah ini, maka jangan salahkan rakyat jika akhirnya mengambil tindakan sendiri demi menjaga tanah adat dan kelangsungan hidup mereka. (**)

Berita Terkait

Bupati Sirajudin Lasena, Gandeng BWS Sulawesi I, Percepat Penanganan Abrasi Pesisir Diwilayah Boltara
Siapa yang Bermain di Tambang Ilegal Bintauna? LSM Galaksi: Jika Dibiarkan, Pembiaran Aparat Juga Patut Dicurigai
Diduga Dibekingi, Tambang Ilegal Kilo 16 Desa Busak Beroperasi Bebas Tanmpa Hambatan
Penambang Tradisional Bolmut Turun ke Jalan, Minta Pemerintah Percepat Izin WPR
PT PLJ Diduga Cemari Lingkungan Sekitar, Dan Tak Taat Aturan
13 DPC dan DPW Usulkan Mohammad Aditya Pontoh sebagai Calon Ketua DPW PPP Sulut
106 Penyuluh Pertanian Boltara Resmi Beralih ke Kementrian
Tahun ini Pemda Boltara Mulai Berlakukan Retribusi Wisata Pantai Batu Pinagut Lewat Non Tunai

Berita Terkait

Selasa, 13 Januari 2026 - 14:25 WITA

Bupati Sirajudin Lasena, Gandeng BWS Sulawesi I, Percepat Penanganan Abrasi Pesisir Diwilayah Boltara

Selasa, 13 Januari 2026 - 00:50 WITA

Siapa yang Bermain di Tambang Ilegal Bintauna? LSM Galaksi: Jika Dibiarkan, Pembiaran Aparat Juga Patut Dicurigai

Sabtu, 10 Januari 2026 - 22:30 WITA

Diduga Dibekingi, Tambang Ilegal Kilo 16 Desa Busak Beroperasi Bebas Tanmpa Hambatan

Selasa, 6 Januari 2026 - 20:31 WITA

PT PLJ Diduga Cemari Lingkungan Sekitar, Dan Tak Taat Aturan

Selasa, 6 Januari 2026 - 17:59 WITA

13 DPC dan DPW Usulkan Mohammad Aditya Pontoh sebagai Calon Ketua DPW PPP Sulut

Berita Terbaru