BOLTARA, TimeNUSANTARA – Masyarakat Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara) diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan digital yang mengatasnamakan tokoh publik. Kali ini, foto profil milik Anggota DPRD Boltara dari Fraksi PDI Perjuangan, Ibu Dewi Astuti Mondo, diduga dicatut oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk melancarkan aksi penipuan melalui aplikasi Messenger.
Akun Messenger bernama “Nailah Nadira” diduga menggunakan foto profil Dewi Astuti Mondo untuk memperoleh kepercayaan calon korban. Dalam percakapan yang beredar, akun tersebut menghubungi warga dan meminta bantuan pembelian pulsa Telkomsel dengan alasan layanan m-banking sedang mengalami gangguan.
Modus yang digunakan cukup meyakinkan. Pelaku terlebih dahulu menyapa korban secara sopan sebelum meminta bantuan membelikan pulsa dengan janji akan mengganti uang tersebut melalui transfer setelah sistem perbankannya kembali normal.
Menanggapi beredarnya akun tersebut, Dewi Astuti Mondo dengan tegas membantah bahwa akun Messenger bernama “Nailah Nadira” merupakan miliknya. Ia memastikan seluruh permintaan bantuan yang mengatasnamakan dirinya adalah tindakan penipuan.
Saat dikonfirmasi, Ibu Dewi yang saat ini tengah menjalankan ibadah haji di Tanah Suci bersama suami tercinta mengaku terkejut mengetahui fotonya digunakan oleh pihak lain untuk memperdaya masyarakat.
“Itu bukan akun saya. Saya tidak pernah meminta uang, pulsa, ataupun bantuan dalam bentuk apa pun melalui Messenger maupun media sosial. Saat ini saya sedang melaksanakan ibadah haji bersama suami di Tanah Suci,” tegas Ibu Dewi.
Ibu Dewi Astuti Mondo sendiri merupakan politisi PDI Perjuangan yang saat ini dipercaya partainya untuk menduduki jabatan strategis sebagai Ketua DPRD Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Penunjukan tersebut merupakan keputusan DPP PDI Perjuangan yang dipimpin Ketua Umum Megawati Soekarnoputri, menggantikan pimpinan sebelumnya.
Sebagai figur publik yang dikenal luas oleh masyarakat Boltara, Dewi menilai pencatutan identitas dirinya berpotensi merugikan banyak pihak apabila tidak segera diketahui publik.
Ia mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap akun media sosial atau pesan pribadi yang meminta bantuan uang, pulsa, maupun transaksi keuangan lainnya dengan mengatasnamakan dirinya.
“Jika ada yang menghubungi dan meminta bantuan keuangan atas nama saya, mohon dipastikan terlebih dahulu kebenarannya. Jangan langsung percaya karena bisa jadi itu merupakan modus penipuan,” ujarnya.
Menurut Dewi, pelaku sengaja memanfaatkan foto dan identitas tokoh publik untuk membangun kepercayaan calon korban. Karena itu, masyarakat diminta untuk selalu melakukan verifikasi sebelum menanggapi pesan yang mencurigakan.
Fenomena pencatutan identitas pejabat dan tokoh masyarakat di media sosial belakangan semakin marak terjadi. Pelaku biasanya menggunakan foto profil orang yang dikenal publik untuk meyakinkan korban sebelum melancarkan aksinya, mulai dari meminta pulsa, transfer uang hingga bantuan darurat palsu.
Masyarakat yang menerima pesan serupa diimbau untuk tidak menanggapi permintaan tersebut serta segera melaporkan akun yang diduga palsu kepada pihak platform media sosial maupun aparat berwenang agar tidak menimbulkan korban lebih banyak.
Dengan adanya kejadian ini, warga diharapkan semakin waspada terhadap berbagai bentuk penipuan digital yang memanfaatkan identitas pejabat, tokoh masyarakat, maupun figur publik lainnya demi keuntungan pribadi pelaku.
(Fadlan Ibunu)














